Pada dasarnya gw ga suka menulis. Dalam pekerjaan yang terakhir ini, di Hard Rock FM, juga gw tidak menyukai menulis. Menurut gw, menulis itu adalah pengungkapan yang masih harus dijelaskan. Misal: seorang produser radio yang juga menulis script, setelah itu dia harus membrief penyiarnya apa yang harus dilakukan dan diambil dari angle mana sebuah radio show itu. Tapi gw juga ga menutup kemungkinan bahwa dengan menulis, dapat memperjelas semua. Disamping itu, gw juga setuju bahwa dengan menulis dapat tersampaikan apa yang ingin dikatakan. Walaupun dengan tulisan tidak dapat keliatan ekspresi. Ngomong-ngomong soal ekspresi, gw suka ngeliat ekspresi orang. Apalagi kalo yang pembawaannya ceria (bukan lebay ya!) dan kalo murung jadinya keliatan, terutama orang yang deket sama kita, atau orang yang kita sayang, pasti tau banget tuh kalo mimik wajahnya berubah dikit ;p
Ngobrolin menulis dan ekspresi di paragraf atas itu adalah bridging (pengantar) untuk obrolan gw selanjutnya di blog ini. Blog yang udah setahunan ga pernah gw update, blog yang pada akhirnya gw buka, dan gw tulis malam ini. Alasan dari gw buka blog ini adalah karena gw udah ga punya privasi yang bisa gw curhatin. Dari mulai facebook (yang mayoritas untuk upload & tag photo), twitter (medium berbagi informasi real time, kadang membuat orang lupa akan fungsi utamanya, seperti curhat di twitter *-_-), path (seseruan aja sendiri karena bisa ngelink ke twitter, facebook, tumblr), dan banyak lagi.. Intinya, gada medium yang bisa gw curhatin, karena emang pingin curhat. Tapi memang butuh sesuatu yang ditumpahkan, seandainya aja seniman, mereka bisa script film, nyiptain lagu, melukis dan lain-lain, sayangnya gw bukan mereka, so keputusan gw untuk menumpahkannya di blog gw ini, blog yang sebenarnya bukan untuk konsumsi publik. That's why gw ga pernah input alamat blog gw lagi di social medi manapun yang gw punya (selain karena emang gw jarang update) :p
Lama ga ketak ketik sendiri, jadi nagih juga :) ceritanya seperti ini, tanggal 15 Desember 2011 kemarin, gw memberanikan diri untuk ngomong sama atasan gw di kantor, bahwa gw akan mengundurkan diri. Hari-hari menjelang tanggal 15 Desember itu adalah hari-hari yang membuat gw galau tentunya. Nangis, itu menjadi bagian dari hampir setiap malam. Yang paling sedih adalah ketika gw tahu bahwa gw akan meninggalkan tempat yang biasanya gw habiskan waktu selama 12 jam bahkan lebih. Gw tau kapan gw akan meninggalkan kedua penyiar gw, Mario Patrick (Soundtraxx) dan Pandji Pragiwaksono (Provocative Proactive). Sejelek-jeleknya gw jadi produser, gw sayang banget sama kedua penyiar gw. Pilihan gw memang untuk tidak memegang siaran Prime Time, dimana siarannya stripping, penyiarnya sama dan selalu menjadi pilihan client untuk pasang iklan. Sedangkan gw kekeuh banget, supaya program Hard Rock FM yang gw pegang bisa dijual sama divisi Marketing, walaupun bukan Prime Time. Balik lagi di hari-hari menjelang tanggal 15 Desember, sebenernya gw pingin ngomong bahwa gw pingin resign di awal Desember jadi di akhir Desember, gw udah bisa keluar. Kembali lagi ke alasan emotional attach, yang mengakibatkan gw jadi ragu untuk ngomong. Pikir-pikir, oke! lo harus berani (omongan dalam hati pada saat itu) selain karena memang ada dorongan lain yang memang menyiapkan batiniah gw untuk bilang bahwa gw mau resign.
Dari obrolan malam itu, 15 Desember 2011, gw deg-degan banget untuk ngomong sama bos gw, menghela nafas berkali-kali, akhirnya gw beranikan diri masuk ke ruangan bos gw, ingat banget waktu itu sekitar jam setengah 10 malam di hari Kamis. Awalnya sok-sok ngajak ngobrol tentang program yang gw pegang sampai akhirnya gw beranikan diri untuk ngomong kalo gw mau resign dan diputuskan oleh atasan gw, bahwa gw belum diperkenankan untuk resign. Hari-hari berlalu, gw ngobrol sama atasan gw, obrolan yang gw saat itu intinya adalah:
bos: "siapa aja yang udah tau kalo lo mau resign?"
airin: "di lantai ini?"
bos: "iya.. emang ada yang lain yang tau?"
airin: "kalo di lantai ini, gada.. gw baru ngomong sama lo langsung...."
bos: "boong!"
airin: "ngapain gw boong?!"
bos: "siapa lagi yang tau?"
airin: "sahabat-sahabat gw diluar kantor, oooohh ini deng, gw bilang sama Mario & Pandji, karena mereka penyiar gw, dan gw akan meninggalkan mereka, jadi gw harus ngomong sama mereka dulu sebelum ngomong sama lo"
bos: "oooo.. trus nyokap lo udah tau?"
airin: "udah..."
bos: "nyokap lo ngomong apa?"
airin: "emangnya nanti ga kangen sama bos?"
airin & bos: "hahahahaha..."
*hening sesaat
bos:"apa sih yang sebenernya yang lo mau?"
airin: "naik gaji sama jabatan sih bos" (dalam hati) "mmmmhh.. gapapa, udahlah, gw udah setahun setengah juga jadi creative, udah bosen.."
bos: "apa rencana lo ke depannya?"
airin: "belum tau, cari kerjaan baru, sambil sekolah lagi kaliiii.."
bos: "lo mau gelar lo sepanjang apa di belakang nama lo?"
(belum sempet cerita, gw udah lulus kuliah Master Degree, dengan gelar M.Si spesialisasi Marketing Communication *jualan ;p)
airin: "hahaha, bukan sekolah yang bergelar lagi, tapi lebih ke kursus, les, pinginnya sih les mandarin, tapi tunggu punya kerjaan baru, jadi bisa bayar sendiri"
bos: "udah punya kerjaan baru?"
airin: "belom"
bos: "kenapa ga cari dulu sampai dapet, baru resign?"
airin: "pokoknya saya mau keluar secepatnya bos, saya udah ga tahan jadi bulan-bulanan" (dalam hati) "gw ga bisa, gw harus lepas dulu baru cari yang lain, karena gw terlalu sayang sama tempat ini."
*kedua jawabannya ini benar (pilihan ganda kaliii ;p)
bos: "kalo sayang kenapa mau keluar?"
airin: "bos ga denger daritadi apa kata saya? kalo saya udah ga sanggup!" (ups! daritadi itu cuma dalam hati) "gapapa, gw mau ada pembelajaran yang baru, sometimes we have to get out, and see & listen what the others said about us"
*hening
bos: "is there any other reason, lo mau cabut?"
airin: "ADA, saya udah ga sanggup" (lagi-lagi dalam hati) "engga kok..., gw emang udah lama mikirinnya, dari waktu gw di Singapore kemarin" (Gw live report Subaru di Singapore, 28 Okt - 3 Nov 2011)
bos: "mmmmhh oke"
*brb jaga siaran Soundtraxx
airin: "jadi kapan gw boleh resign?"
bos: "nanti ya gw pikir-pikir dulu?"
airin: "LOH?" (dalam hati) "heh? kenapa? gw pikir lo akan langsung bilang iya, pas gw bilang kalo gw mau resign"
bos: "kenapa lo bisa mikir gitu?"
airin: "karena saya punya perasaan, bos. Makanya saya bisa ngomong gitu" (dalam hati) "yaa gapapa, gw gitu loh, gw mana mau pegang siaran prime time, gw juga ga bagus jadi creative. lo tau sendirilah"
bos: "lo tuh sebenernya bisa, asalkan mau aja, liat tuh si U, bisa kan? dibantuin sama penyiarnya.."
airin: "iya bos, saya juga tau itu, tapi saya punya idealisme sendiri, saya maunya program yang saya pegang bisa membuat hard rockers notice dan mereka dengerin, plus bisa dijual sama divisi Marketing" (lagi-lagi dalam hati) "itu udah jadi pilihan gw, buat ga pegang prime time, gw mending live report deh, jadi kapan gw boleh resign?" (baru sekarang gw kepikiran, ini tolol. Mau resign kok ijin?)
bos: "mau sampai kita ngomong besok pagipun, jawaban gw tetep engga"
airin: "ANEH!" (dalam hati) "okeeee kalo gitu kita pulang"
Di malam tanggal 15 Desember 2011 itu rasanya lega banget, akhirnya yang selama ini kependem, bisa keluar juga. Pulang jam 12 malam dari kantor, itu hal biasa buat gw, turun sama Mario yang abis siaran, gw bilang kalo gw udah bilang sama bos, kalo gw mau resign, dan suasana di lift pun hening. Dalam hati, udah mulai nangis, Mario, i love you!. Dalam mobil, dengerin lagu, nangis. Ga kerasa udah di rumah, ganti daster, langsung bbm Pandji, "Ndji, malam ini gw bilang ma bos, kalo gw mau resign, ...." dilanjutkan dengan nangis. Dan pada akhirnya malam itu, gw ketiduran tanpa bersihin make up, eye liner, dan ga matiin lampu. Kenapa ya gw segitu sedihnya? Jawabannya sederhana, karena gw masih pingin disini, karena gw yakin gw butuh refreshing untuk kembali ke rutinitas yang padat, karena gw yakin gw bisa, karena gw yakin 3 program reguler time gw bisa kejual sama Marketing.



No comments:
Post a Comment